April 05, 2018

Reproduction of Happiness #80: Shopping

Baru kali ini saya merasakan dampak dari transisi musim dingin ke musim semi yang ternyata sama aja dengan pancaroba, yaitu dilanda penyakit yang bikin badan enggak enak. Entah apa namanya ini, flu atau bukan, yang jelas udah dua minggu lebih badan saya terasa ringkih. Hampir setiap hari bangun disertai dengan kepala yang terasa berat dan sekujur badan rasanya pegal hingga ke tulang gitu. Belum lagi kadang tiba - tiba meler dan batuk berdahak. Dampaknya jadi ke pikiran yang enggak jernih dan mood yang senggol bacok. Biasanya kalau lagi enggak merasa enak, salah satu solusi paling ampuh bagi saya adalah olahraga. Tapi berhubung kali ini badan juga enggak enak, jadinya dibawa olahraga dikit aja langsung makin sakit malamnya. Bahkan untuk sekedar sepedaan ke kampus juga enggak bisa. Akhirnya terpaksalah udah dua minggu ini saya skip olahraga. Kerja pun lebih banyak di flat ketimbang ke kampus. Belum lagi PMS dan tamu bulanan yang membuat segalanya semakin menjadi - jadi. Sampai puncaknya sih di hari Jumat dan Sabtu lalu, ketika segala cara udah dicoba, tapi kepala rasanya butek banget dan bawaannya pengen menghela napas mulu. Dan ternyata hanya ada satu cara paling efektif yang berhasil bikin saya tenang dan senang, yaitu b-e-l-a-n-j-a! Pada dasarnya saya memang suka belanja sih anaknya, cuma baru kali ini merasa sepuas itu abis belanja. Salah satu kegiatan yang bikin sehat karena bukan cuma pikiran saya yang terdistraksi, tapi juga banyak gerak dan jalan. Selain itu berhubung sebagian besar waktu dihabiskan di dalam ruangan, 'olahraga' yang satu ini enggak bikin kedinginan dan masuk angin. On top of it all, momennya juga lagi pas karena ada beberapa barang yang udah lama pengen dibeli ;)


Summer Outfits

Berhubung musim dingin kemarin berkepanjangan, bahkan hingga bulan Maret aja masih sempat minus dong temperaturnya (!!!), saya sekarang udah mencapai titik di mana bawaannya pengen kabur aja ke tempat yang hangat dan berlimpahkan sinar matahari. Namun apa daya, hingga sekarang saya masih belum bisa kemana - mana. Jadi cara lainnya adalah lagi - lagi mimpi di siang bolong dulu dengan membeli 'perlengkapan' musim panas. Begitu window shopping ke beberapa toko favorit saya, akhirnya menemukan barang - barang yang saya inginkan, yaitu sunglasses ala - ala (karena sebenarnya enggak bisa saya pakai selain hanya untuk foto doang, hahhaha!), dress, dan flip - flops. Meskipun ada juga sih yang agar impulsif karena di luar daftar belanja saya, seperti anting, backpack, dan kuteks. Cuma berhubung ketiga barang tersebut dari Primark, yang menjadi tempat favorit saya untuk belanja impulsif karena murah meriah, jadi saya enggak menyesal deh. Hahah!









Houseplants 

Dampak lain dari musim dingin yang enggak ada ujungnya ini adalah tanaman saya pada berguguran satu persatu! Jika dijumlahkan secara keseluruhan, ada tujuh tanaman yang udah enggak bisa diselamatkan. Hampir seluruhnya sih gugur karena overwatered akibat udara yang terlalu dingin dan jarang terkena paparan matahari. Sekalipun ada sinar matahari, begitu ditaruh di beranda, malah gugur juga karena kedinginan. Memang aneh sih disini matahari justru terik begitu temperaturnya sedang turun. Jadi serba salah gitu merawatnya. Dan saya enggak menyangka ternyata rasanya sesedih itu ketika melihat ketujuh tanaman tersebut langsung berubah drastis dalam waktu yang berdekatan. Alasan utamanya sih karena empat dari tujuh tanaman tersebut udah saya beli dan rawat semenjak awal pindah ke Belanda, yaitu dua tahun yang lalu. Jadi saya udah melihat juga perubahan mereka, seperti Jade dan Ebony yang tadinya masih pendek bisa tumbuh tinggi, serta Pilea yang awalnya hanya beberapa daun jadi tumbuh lebat hingga ada yang mesti saya pindahkan ke pot lain. Lalu saya coba nunggu sebulan gitu dengan harapan mereka bisa membaik tapi akhirnya saya pasrah melihat enggak ada perubahan dan memutuskan buat beli tanaman baru. Berbeda dari sebelumnya yang kebanyakan adalah succulent, kali ini saya mau ganti suasana baru dengan membeli  jenis houseplants yang lain. Dan akhirnya pilihan saya jatuh ke Ctenanthe dan Peperomia, yang dari pertama kali melihatnya langsung bikin saya berbinar - binar dengan corak daunnya yang unik! 





Basic 

Dulu sih, saya sempat terjebak masa - masa di mana saya cukup memaksakan diri untuk membeli barang branded yang ada di luar budget saya supaya keliatan hits gitu. Hee! Tapi begitu kuliah, saya jadi sadar bahwa brand itu enggak segalanya. Malahan saya jadi lebih menyukai barang - barang tanpa brand selama nyaman, bagus, dan yang paling penting, original! Soalnya saya suka sedih gitu setiap mendengar cerita orang - orang yang segitunya memaksakan diri mereka hanya karena ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain. Seperti membeli versi imitasinya Louis Vuitton yang dijual di ITC, yang dijual lengkap dengan berbagai level KW-nya. Kasian aja karena mereka bela - belain beli barang palsu hanya untuk bisa terlihat bagus. Menurut saya sih enggak ada yang salah dengan membeli dan menggunakan barang branded selama masih dalam budget dan sesuai kebutuhan juga. Sampai sekarang pun saya masih beli beberapa barang branded dengan harga yang menurut saya mahal karena udah lama jadi incaran saya dan merasa kalau dari brand tersebut akan lebih long-last ketimbang brand lainnya; bukan karena saya ingin mengikuti trend dan supaya hits gitu. Salah satu barang yang udah lama di dalam wish list saya adalah Adidas Superstar. Berhubung saya bukan penggemar sneakers jadi sebelumnya saya selalu mikir beberapa kali buat beli sepatu ini. Apalagi sebenernya kan banyak brand lain seperti Stradivarius, Bershka, Pull & Bear yang juga mengeluarkan model yang hampir mirip dengan harga setengahnya dari Adidas. Cuma ternyata harga memang enggak bohong ya! Sepatu saya sebelumnya yang dibeli dari Bershka akhirnya cuma bertahan dua tahun. Yaa semoga aja kali ini dengan harga lebih tinggi juga bisa bikin barangnya bertahan lebih lama yaa :))





Hal lain yang bikin saya bahagia banget dari belanja adalah begitu mendapatkan barang bagus dari brand favorit saya dengan harga miring! Salah satunya adalah headphone Nixon ini yang enggak sengaja saya temukan saat lagi mengunjungi America Today. Bayangin aja dong, dari yang tadinya 25 Euro, jadi hanya 7 Euro! Saya sampai nanya lagi ke pegawai di sana buat memastikan kalau saya enggak salah lihat. Haha! Selain saya memang lagi nyari headphone, saya juga suka dengan Nixon sejak punya jam tangan dari brand tersebut. Selain itu, saya juga beli tas dari brand favorit saya lainnya, yaitu Mango. Berbeda dari di Indonesia, kalau di sini tuh pas lagi diskon harga barang - barang mereka jadi jauh lebih murah gitu. Kalau di Indonesia kan mau diskon mau enggak, harganya tetap mahal kan tuh :p Terlepas dari itu, saya suka dengan desain mereka yang simpel tapi klasik. Hal lain yang saya juga suka adalah mereka jarang menunjukkan label mereka. Berhubung saya memang kurang suka dengan barang, terutama tas, yang didesain supaya nama brand-nya terpampang jelas di depan mata gitu :)) 

April 03, 2018

Stockholm: Living in A Fairy Tale World

Enggak terasa udah sembilan hari saya di Skandinavia dan akhirnya sampai juga di pemberhentian terakhir sebelum kembali ke Rotterdam! Antara sedih dan senang sih... karena sejujurnya perjalanan ini udah mulai terasa semakin melelahkan. Faktor U memang enggak bisa bohong yaa, baru sembilan hari aja rasanya udah jompo badan ini :)) Tapi dari pengalaman saya traveling sebelumnya pun, begitu udah melewati seminggu pasti udah mulai berkurang bahagianya. Makanya bagi saya waktu paling lama di jalan adalah sepuluh hari. Yaaa, mentok - mentok bisa dua minggu lah. Kalau udah lebih dari itu, pasti udah enggak terasa menyenangkan lagi. Sekalipun menetap di satu kota yang sama dalam beberapa hari dan stay di hotel atau Airbnb yang nyaman, bagi saya enggak ada yang mengalahkan rasa nyaman berada di rumah sendiri.


Alasan itu juga yang membuat akhirnya hanya beberapa yang saya masukkan ke dalam daftar must-visit (dan ujungnya semakin sedikit pula jumlah tempat yang berhasil dikunjungi), terlepas dari banyak banget sebenarnya tempat yang terlihat menarik di Stockholm yang ingin saya kunjungi. Selain udah capek, beberapa hari kemarin juga bawaannya tergesa - gesa dan mobilitas yang tinggi dari satu kota ke kota lain. Jadi sekarang bawaannya pengen santai aja dan saya juga enggak ambisius buat memasukkan banyak destinasi selama tiga setengah hari di sini. Bahkan totalnya hanya ada lima tempat yang berhasil saya kunjungi, yaitu keliling beberapa metro 'art' station (T-Centralen, Stadion, Kungstradgarden, Tenstra, Solna Strand), Gamla Stan, Nobel Museum, (the world's largest) IKEA, Museum of Modern Art, dan Stockholm Public Library. Bagi saya semua tempat tersebut recommended banget buat dikunjungi. Cuma kali ini saya hanya akan membahas satu tempat favorit saya di Stockholm, yaitu Gamla Stan. It's the only place in Stockholm - even Sweden - that every time I think about it I get butterflies in my stomach.









Stockholm, 29 Desember 2017. Destinasi pertama yang ingin saya datangi hari ini adalah SoFo, sebuah district yang terkenal sebagai home for many Swedish creative industries. Tapi begitu turun dari bus dan mengikuti papan petunjuk arah yang tertera di jalan akibat sedang ada perbaikan, ujung - ujungnya bukan diarahkan ke Sofo namun malah arah sebaliknya. Dan justru membawa saya ke destinasi kedua di daftar yang akan saya kunjungi hari ini, yaitu Gamla Stan atau Old Town. Berhubung udah terlanjur, saya memutuskan untuk mengeksplore bagian kota tua Stockholm yang memang terkenal cantik. Awalnya saya enggak berekspektasi apapun karena merasa yaa paling kota tua isinya enggak akan jauh beda dari kebanyakan kota tua di Eropa lainnya. Tapi nyatanya Gamla Stan berhasil menyihir saya sampai rela menghabiskan sebagian besar waktu saya hari ini hanya untuk berjalan kaki mengelilingi tempat ini. Enggak berlebihan ternyata kalau sisi kota tua Stockholm ini hampir selalu menjadi hal pertama yang direkomendasikan oleh orang - orang, baik dari teman - teman saya yang udh pernah ke sini maupun dari blog.

Sambil terus berjalan dan sesekali memandangi instalasi toko yang sebagian besarnya juga dihiasi oleh dekorasi Natal, sampailah saya di persimpangan yang salah satunya mengarahkan saya ke Stortorget, sebuah square yang dikelilingi oleh gedung warna - warni dengan bentuk yang super menggemaskan. Tapi sebelum itu, tiba - tiba ada yang memanggil nama saya. Dan benar aja dugaan saya, mereka adalah beberapa teman satu jurusan saya yang juga sedang liburan ke sini. Sebenernya saya pun udah sempat kepikiran apakah akan ada satu waktu yang mana saya akan bertemu dengan mereka, tapi enggak nyangka aja beneran bertemu tanpa janjian dulu sebelumnya. Ternyata Stockholm sempit juga ya. Di antara berbagai tempat dan kerumunan orang - orang, masih aja bisa ketemu! :3









Setelah berjalan mengelilingi Gamla Stan cukup lama, dan tampaknya temperatur mulai turun lagi ketika hari semakin sore, saya mulai merasa terlalu kedinginan. Buru - buru saya mencari tempat untuk menghangatkan diri sekaligus buat Fika, sebuah tradisi Swedish yang berarti "taking time to slow down". Sebenarnya sih tanpa sadar selama perjalanan ini hampir tiap hari saya udah melakukan Fika, yang cenderung dilakukan dengan minum kopi (atau minuman manis lainnya) sambil ditemani makanan manis seperti Kanelbullar (cinnamon rolls). Langsung aja saya teringat satu rekomendasi tempat oleh mas Marlo, yaitu Chokladkoppen, yang letaknya di bawah salah satu gedung kuning di Stortorget. Dari luar memang udah terlihat cantik banget dan ternyata begitu masuk ke dalam pun tempatnya terasa cozy banget; meski sayangnya kecil dan sangat terbatas jumlah meja dan tempat duduknya. Sekilas rasanya hanya mampu menampung enggak lebih dari 20 orang. Tapi mungkin itu yang membuat tempat ini jadi spesial. Dengan lampu remang - remang, kursi kecil, serta dekorasi tua dengan jarak antar meja yang berdekatan satu sama lain, langsung mengingatkan saya juga dengan konsep Hygge. Memang sih seringkali Hygge juga dikaitkan dengan kenyamanan yang muncul bersama orang - orang terdekat. Namun entah saat itu walaupun sendirian, mungkin karena tempatnya yang kecil dan nyaman, saya enggak merasa kesepian atau kikuk gitu. Oh iya, di saat itu juga saya baru menyadari kalau Swedish menyajikan kopi dalam gelas yang kecil banget. Dan lucunya, Kanelbullar yang disediakan justru besar banget sampai saya hanya mampu makan setengah-nya! Agak kurang paham juga kenapa ukurannya enggak medium aja untuk keduanya ya :))















Satu hal paling mengesankan dari Gamla Stan adalah setiap jalannya yang memiliki karakter yang berbeda. Ketika memasuki jalanan utama, terlihat lebih banyak toko souvenir dan pernak pernik lucu khas Sweden yang jelas sekali ditujukan untuk para turis. Namun begitu mulai memasuki salah satu jalanan kecilnya, perlahan mulai terasa sunyi. Begitu juga dengan pemandangan di sekeliling saya, yang awalnya diisi oleh pertokoan modern, mulai tergantikan dengan secondhand shops dan toko antik. Dan taulah ya, bagi saya yang penyuka barang vintage dan secondhand, pastilah semakin bahagia begitu menemukan beberapa jalan ini. Salah satunya bernama K√∂pmantorget atau "Merchant's Square". Begitu sampai di tempat ini, saya langsung teringat dengan Budapest, Praha, Salzburg, dan Colmar. Entah gaya arsitektur dan warna setiap bangunannya, entah dekorasi Natal yang terpampang di hampir setiap toko yang saya lalui, entah jalan berbatuannya; yang jelas suasananya langsung terasa lebih magis. Lagi - lagi, saya jadi merasa sedang berada di sebuah film. Kali ini yang terlintas di pikiran saya adalah Mickey's Christmas Carol dan Anastasia, dua film favorit saya ketika masih kecil. Padahal saya enggak bisa ingat bagian mananya yang mirip dengan kedua film tersebut :)) Ah, siapa yang menyangka ternyata sore ini menjadi salah satu sore teristimewa di bulan Desember ini. Terima kasih sudah menjadi kota penutup paling manis di perjalanan kali ini, Stockholm. 

March 28, 2018

Reproduction of Happiness #79: Breakfast

Ada satu kebahagiaan yang baru saya temukan atau lebih tepatnya saya sadari semenjak tinggal di Belanda, yaitu sarapan! Sebenarnya kalau ditelusuri, dari sebelum ke sini pun saya udah bersemangat setiap pagi untuk sarapan. Maklum, biasanya kan kalau udah tidur lama gitu, bangun - bangun suka laper tuh :p Tapi rasanya sih saya semakin menghargai arti sarapan sejak tinggal di flat sebelum ini. Entah karena saya biasa terbangun oleh aroma kopi dan suara coffeemaker ketika salah satu flatmate saya membuat sarapan di dapur yang letaknya hanya beberapa langkah dari kamar saya. Entah karena di ruang tengah, yang biasa digunakan sebagai tempat untuk breakfast, memiliki pemandangan yang enggak pernah bosan untuk dilihat sekalipun hampir setiap hari saya melihatnya. Terus apa hubungannya? Karena terlalu bagus untuk dilewatkan, saya jadi suka melihat pemandangan tersebut sambil sarapan. Yang pasti, semenjak saya tinggal di flat sebelum ini, saya mulai mengganti cara menikmati sarapan. Dari yang sebelumnya setiap sarapan saya cenderung tergesa - gesa, kali itu saya coba lakukan secara perlahan.

Selain itu, sarapan juga menjadi salah satu indikator ketika dulu saya sempat mengalami depresi, loh! Kalau setiap pagi saya terbangun dalam kondisi semangat buat sarapan, tandanya saya masih dalam tahap yang 'tolerable'. Tapi begitu udah menemukan pagi di mana saya enggak ada semangat buat sarapan, wah itu tandanya udah parah banget, dan saya mesti melakukan effort lebih buat menjalani hari saya tersebut :)) Karena selain proses menikmati makanan yang disajikan buat sarapan, hal lain yang juga membuat saya bahagia adalah proses membuat sarapan itu sendiri. Jadi triple gitu loh kebahagiaan yang diberikan dari breakfast routine ini. Mulai dari sebelum sarapan, selama membuat sarapan, hingga saat sarapan. Soalnya terkadang kan mulai dari bangun aja udah bikin semangat gitu buat sarapan. Yaa itu tadi, karena udah lama tidur, jadi bangun - bangun laper. Apalagi kalau malam sebelumnya udah enggak makan di atas jam 8. Wah, fix sih begitu bangun pasti laper. Haha!


Semenjak tinggal di Belanda, ada tiga menu sarapan favorit saya. Uniknya, setiap menu punya arti yang berbeda dan dibuat berdasarkan: waktu yang saya punya di pagi hari, mood, dan seberapa banyak asupan energi yang saya butuhkan sampai sebelum lunch. 

For Energetic Day: 
Green Smoothie, Egg and/or Cheese Toast

Di antara menu sarapan yang lain, menu ini yang paling full energy. Jadi saya pasti bikin menu ini, yaitu telur dengan roti atau biskuit gandum dan smoothie, kalau saya akan sepedaan ke kampus. Secara dulu kaan flat saya sebelum ini sekali jalan 10 km, dan ternyata dengan hanya sarapan roti aja begitu sampai di kampus langsung laper lagi. Begitu juga dengan flat saya sekarang, meskipun hanya berjarak 3,7 km, karena jalanannya nanjak dan sepeda saya enggak ada gear-nya, jadi tetep lumayan banyak ngeluarin tenaga :)) Selain itu, saya juga mengonsumsi menu ini kalau workload lebih banyak dari biasanya, saat saya merasa kurang bertenaga dari pagi tapi sorenya saya akan ikut kelas zumba, serta kalau lagi pengen makan yang asin sambil minum yang seger - seger. Oh iya, udah empat bulan ini sebenernya saya sedang mengurangi roti, jadi saya menggantinya dengan biskuit gandum. Cumaan, ada satu waktu di mana saya pasti mengonsumsi roti untuk sarapan, yaitu ketika PMS! Jadi biasanya saya bikin egg-cheese toast ini (soalnya biasanya juga saya cuma bikin dengan telur aja tanpa keju) dan ketimbang minum smoothie, entah kenapa selama periode tersebut saya lebih suka menyantapnya sambil minum kopi.


Untuk resep green smoothie, sebenernya udah pernah saya tulis beberapa resep favorit saya, di blog post ini. Cuma semenjak di sini, ada satu resep tambahan lagi yang justru paling sering saya buat dibanding resep smoothie lainnya, yaitu Spiberry. Pada dasarnya sih ini hampir sama dengan Berry Nach, tapi ada sedikit modifikasi. Mumpung harga blueberry di sini jauh lebih murah ketimbang di Indonesia, jadi saya konsumsi sebanyak - banyaknya deh sebelum for good ke Indonesia nantinya. Jadi resep Spiberry ini adalah:

3 genggam baby spinach
1 genggam frozen blueberry
5 buah frozen strawberry
1 buah pisang
1 gelas susu soya atau almond
2 sdm yoghurt rasa strawberry/blueberry (supaya lebih creamy)

Masukkan semua bahan di atas ke dalam blender dan blend sampai halus. Oh iya, saya juga biasanya rendam strawberry di air hangat selama beberapa detik sampai enggak terlalu keras. Dari pengalaman saya, kalo strawberry-nya masih beku, terkadang susah hancurnya. Tapi kayanya ini tergantung ukurannya juga sih ya. 


For Casual Day:
Peanut Butter Granola Bowl 

Di antara berbagai menu lainnya, menu sarapan ini udah jadi favorit saya semenjak tiga tahun lalu. Lebih tepatnya ketika saya mulai concern dengan pola hidup yang lebih sehat. Dan kayanya menu yang satu ini yang paling punya banyak cerita. Bukan apa - apa, untuk sampai ke menu ini, saya melewatkan berbagai eksperimen alias coba - coba berbagai menu sarapan yang terkait dengan muesli dan granola. Jadi ceritanya tuh, waktu itu saya diminta oleh dokter untuk melakukan detoks liver, yang mana ada beberapa makanan yang harus diganti, termasuk menu sarapan saya. Dari yang sebelumnya saya doyan banget makan sereal manis dengan susu sapi, akhirnya diganti menjadi muesli atau granola. Nah, berhubung masih baru kan tuh, jadi semangatlah saya mencari jawaban atas pertanyaan "enaknya diapain nih si kedua makanan asing ini". Yaa secara gitu kan, seumur - umur sarapan dengan oat paling dibikin havermout, itu pun ujungnya dicampur pake susu sapi dan gula. Berhubung banyak pantangan makanan dan waktu itu saya juga penasaran dengan beberapa produk lokal yang menjual makanan sehat, saya pun tertarik untuk mencoba overnight oats. Merasa puas dengan rasanya tapi enggak puas dengan harganya (karena terlalu mahal, haha!), saya jadi tertantang untuk membuat versi saya sendiri, yaitu menggunakan unsweetened soy milk, muesli dan beberapa buah - buahan. Resep ini sebenarnya saya dapatkan dari salah satu website yang memberikan beberapa resep untuk overnight oats, salah satunya dengan susu almond. Tapi berhubung saya enggak suka susu almond, jadi saya ganti dengan susu soya (saya juga enggak ngerti sih kenapa waktu itu enggak ganti dengan yoghurt, padahal jelas - jelas produk lokal yang saya beli waktu itu menggunakan yoghurt juga untuk overnight oats-nya!). Daaaan, ketebaklah yaa, rasanya jauh beda dengan yang saya beli di produk lokal waktu itu. Tapi karena semangat saya masih menggebu - gebu untuk hidup sehat, jadinya saya sempat rutin makan overnight oats dengan resep seperti itu. Sampai akhirnya suatu ketika saya jenuh banget dan akhirnya stop makan sampai sekarang saking masih trauma makan overnight oat. Hahaha!


Setelah itu saya juga eksperimen menu lain, yaitu mencampur muesli dengan smoothie. Sebenernya rasanya lebih enak ketimbang overnight oat... cuma setelah beberapa kali mencoba, saya enggak pernah buat lagi karena akhirnya saya sadar kalau bagi saya, jenis dan rasa smoothie apapun enggak cocok dipasangkan dengan muesli/granola. Awalnya saya kira ini cuma karena saya aja yang enggak jago bikinnya, tapi ternyata begitu coba salah satu smoothie bowl dari Nalu Bowl, tetep aja enggak bikin saya menyukai campuran smoothie dengan muesli/granola. Dan entah akhirnya bagaimana dan dari mana, saya sampai juga ke resep "Peanut Butter Granola" ini, yang mana enggak ada yang bisa menggantikan selama tiga tahun ini. Serba pas! Bukan cuma rasanya, tapi juga preparation time yang singkat, dan asupan energi yang enggak bikin laper dan lemes sampai jam makan siang. Kadang menu ini juga saya jadikan sebagai menu makan malam loh. Hasilnya pun sama juga, kalo saya makan sekitar jam 7 malam, setelah makan ini tetep bikin kenyang sampai tengah malam (karena saya biasa tidur jam 12). 

Secara saya orangnya apa - apa berdasarkan feeling, termasuk dalam memasak, jadi kurang lebih resepnya seperti ini:

4 sdm muesli/granola (favorit saya sih yang baked tanpa dilapisi tepung)
2 sdm yoghurt (favorit saya Greek yoghurt, atau kalo mau plant based, saya juga suka Plain Soy atau Coconut yoghurt)
1 sdm selai kacang (jika mau lebih berasa kacangnya, bisa tambahkan sesuai selera)
1 sdt madu
1/2 pisang (kalau lagi lapar, bisa juga 1)

Semua bahan dicampur sampai merata, lalu disajikan. Oh iya, kadang saya juga suka tambahkan sedikit muesli/granola lagi di atasnya supaya lebih crunchy. 

For Lazy Day: 
Sweet Crepes/Pancake

Buat menu yang satu ini biasanya sih pasti saya bikin hampir setiap Sabtu dan Minggu, meskipun kadang saya juga buat di hari lain kalau tiba - tiba lagi pengen. Terus enggak tau yaa, tapi bawaannya tuh kalo lagi sarapan dengan pancake atau crepes, pasti otomatis pengen buka Spotify. Jadi sarapan di akhir pekan dengan ditemani lagu bernuansa jazz atau akustik sambil duduk melihat ke luar balcony. Entahlah ini karena kebanyakan nonton film atau baca buku dengan genre drama, saya jadi ikutan dramatis gini sekarang :)) Oh iya, dari pindah ke Belanda pertama kali saya juga udah mulai sering buat pancake. Tapi kalau kebiasaan minum kopi buat sarapan ini baru muncul ketika tinggal di flat yang sebelum ini. Awalnya saya hanya tergoda dengan aroma kopi yang semerbak wanginya hingga satu flat setiap kali flatmate saya buat kopi. Namun lama - kelamaan saya penasaran juga dan akhirnya mencoba kopi bikinannya. Semenjak itu saya jadi ketagihan minum kopi untuk sarapan, apalagi kalau ditemani dengan pancake atau crepes ini.


Berhubung saya enggak suka menggunakan baking powder karena rasanya yang pahit, jadi untuk membuat adonan crepes dan pancake sebenernya enggak ada bedanya sih, kecuali takaran tepungnya. Dan karena saya orangnya jarang menakar, biasanya sih saya melihat dari kekentalan adonannya. Jadi kalau crepes biasanya adonannya cair, sedangkan kalau pancake saya akan tetap masukkan tepung hingga adonannya kental. Oh ya, ada tiga topping favorit saya untuk disajikan dengan crepes atau pancake. Topping pertama adalah choco-peanut butter, yang literally cuma campuran selai kacang dan selai cokelat. Sebenernya lebih enak dengan Nutella, tapi berhubung lemaknya juga lebih banyak, jadi saya substitute dengan dark chocolate. Ha! Lalu topping lainnya adalah pancake ala American, yaitu maple syrup, caster sugar (bubuk gula putih), dan butter. Dan satu lagi adalah ala Norwegian, yang sempat saya ceritakan sebelumnya di postingan tentang Bergen, yaitu strawberry jam, sour/clotted cream, serta Norwegian brown cheese. Berhubung saya enggak punya cetakan waffle, akhirnya saya ganti jadi crepes atau pancake aja deh. Sama enaknya kok! :3


Later, I realize this morning routine has become one of the most crucial moment for me. By taking my breakfast slowly, I appreciate things around me more. Bukan hanya makanan yang saya makan, udara segar yang saya hirup, tapi juga hal lain di sekitar saya. Seperti pemandangan di luar jendela yang sepintas terlihat sama dari hari ke hari, ternyata ada waktu di mana berbeda. Pepohonan yang tadinya berwarna hijau menjadi merah, kuning, dan cokelat. Lalu ada saatnya berubah lagi menjadi kosong tanpa daun. Dan akhirnya mulai terlihat pucuk - pucuk kecil di sekeliling rantingnya. Bagi saya, ada kebahagiaan tersendiri setiap melihat semua perubahan tersebut dari waktu ke waktu. Di flat saya yang sekarang, morning routine ini juga masih saya terapkan karena kamar saya punya balcony. Meskipun view-nya enggak sebagus flat sebelumnya, pemandangan taman dengan pepohonan serta suara kicau burung - burung di luar tetap membuat saya merasa refreshed. Beberapa bulan lalu, di saat temperatur lagi enggak begitu dingin, saya juga suka sarapan di balcony. Tapi berhubung sekarang masih dingin, saya sarapan di kamar dulu aja dengan membuka pintu penghubung ke balcony sambil menikmati pemandangan di luar :))

March 24, 2018

Sixteen Hours in Oslo

Setelah kurang lebih enam jam duduk di kafetaria yang ada di dalam kereta dari Myrdal menuju Oslo, dengan beberapa kali pindah tempat duduk - dari satu sudut ke sudut lainnya, dari yang kursi tanpa senderan hingga ada senderannya - akhirnya penantian panjang pun berakhir. Akibat menunda dan menggampangkan reservasi tempat duduk, begitu tadi siang saya coba reservasi di stasiun Flam, ternyata udah sold out. Alhasil, saya jadinya duduk di kafetaria yang mana enggak bisa tidur dan duduk senyaman di tempat duduk biasa. Tapi yaaa, jangankan mengeluh, kenyataan bahwa saya masih diperbolehkan masuk ke dalam kereta hingga Oslo aja udah bersyukur banget! Kalo sampe enggak dibolehin masuk karena enggak dapat tempat duduk kan jadi berabe urusannya. Dan seenggaknya, kafetaria di kereta pun juga masih terbilang nyaman. Tetep aja sih, saya akan menjadikan ini salah satu pelajaran terpenting yang enggak akan saya lupakan dari perjalanan ini: jangan pernah menunda buat reservasi segala sesuatu yang ada batasnya!



Ada hal menarik dari perjalanan ini yang enggak saya dapatkan dari berbagai perjalanan saya sebelumnya, yaitu keunikan setiap keluarga yang saya temui di sini. Mulai dari pengalaman mereka tinggal di Skandinavia hingga kebiasaan masing - masing keluarga yang berbeda satu dengan lainnya, termasuk cara mereka menata tempat tinggal. Kalo flat-nya Mas Marlo dan Mbak Lelly memiliki desain yang minimalis dan paling cocok buat mahasiswa yang pengen punya studio apartemen. Bahkan saya aja sempat dibikin iri karena dengan ukuran studio yang sama harganya bisa berkali lipat di Rotterdam. Lain lagi dengan rumah Mbak Aini dan Mas Baim yang membuat saya merasa seperti bukan tinggal di rumah beneran saking manis-nya. Rumah kayu yang sepintas terlihat tua tapi sebenarnya kokoh karena beberapa tahun sekali pasti diganti bagian dalamnya supaya tetap kokoh. Akhirnya bisa merasakan bagaimana tinggal di Scandinavian toy house! Sedangkan impresi pertama saya begitu mengunjungi flat-nya Mbak Jena dan Mas Abi itu langsung, "wah artsy banget!". Indeed, hal pertama yang membuat saya terpukau begitu sampai di flat mereka adalah dekorasinya. Bagian living room yang dihiasi oleh berbagai indoor plant langsung mengingatkan saya dengan foto - foto yang biasa diposting oleh akun Instagram @urbanjungleblog. Selain itu, dekorasi bathroom yang apik dan bernuansa boho juga salah satu yang jadi favorit saya. 




"Ozu, kamu yakin enggak mau keliling Oslo dulu sebelum ke Stockholm?", tanya Mbak Jena ketika saya mengutarakan rencana saya buat langsung mengambil kereta paling pagi ke Stockholm. Dari awal menyusun itinerary, satu kota yang ditujukan hanya untuk singgah adalah Oslo. Secara gitu kan letaknya yang strategis, berada di tengah - tengah antara Bergen dan Stockholm. Tiga hari yang lalu saya juga sempat singgah di Oslo tapi enggak perlu menginap karena saya sampai Oslo pagi dan jadwal kereta saya ke Bergen kebetulan ada yang di siang hari. Cuma kali ini berhubung saya baru tiba di Oslo jam delapan malam, sedangkan keberangkatan ke Stockholm baru ada di hari berikutnya; akhirnya mau enggak mau saya harus menginap semalam di Oslo. Soalnya baik dari cerita teman saya yang udah pernah kesana maupun dari hasil browsing, tampaknya memang enggak ada yang menarik untuk dieksplore. Tapi setelah dipikir - pikir lagi, enggak ada salahnya juga melihat sisi lain Oslo selain central station-nya. 

Berhubung dari awal udah enggak ada rencana buat keliling Oslo, jadi saya pasrah ikut kemana para tuan dan nyonya rumah membawa saya. Tempat pertama yang kami tuju adalah sebuah taman yang letaknya di atas bukit dan selintas dari dalam mobil terlihat beberapa sculpture di antara pepohonan. Belakangan saya baru tau kalo Ekebergparken ini ternyata salah satu sculpture park yang terkenal di Oslo. Meskipun sejujurnya saya cuma familiar dengan satu nama, Salvador Dali, dari beberapa nama artist yang karya-nya dipajang di sini :)) Anyway, rencana kami yang tadinya mau berjalan mengelilingi taman akhirnya hanya berujung foto di dekat parkiran karena jalanan yang saat itu super licin, dilapisi oleh es. Ini sih yang menurut saya paling gengges dan bikin saya males keliling Oslo...  bukan cuma dinginnya yang menusuk, tapi juga mesti super hati - hati setiap melangkah. Cuma buat poin kedua, ini juga ada kaitannya dengan kebodohan saya yang hanya membawa satu boots, itu pun yang saya beli di Primark dan bukan yang Docmart. Bukannya apa - apa, tapi di saat seperti ini saya baru sadar memang harga itu enggak boong ya. Licin banget cuy pake yang dari Primark! Jadi, pelajaran lainnya adalah pake sepatu yang proper setiap kali traveling, terutama di saat winter. Baiklah. 





Setelah itu kami ke Vigeland Park, yang (((ternyata))) merupakan salah satu destinasi 'wajib' di Oslo karena gelarnya sebagai the world's largest sculpture park dan setiap patung yang ada di sini dibuat oleh satu orang, yaitu Gustav Vigeland. Lucunya, berhubung saya cuma sepintas browsing informasi tentang Oslo, saya enggak ngeh sama sekali dengan tempat ini. Bahkan Mbak Jena udah beberapa kali mention nama tempat ini, tapi tetep aja saya enggak tau tempat apa ini. Awalnya saya kira malah  cuma mau jalan - jalan ke taman terbesar di Oslo. Meski dalam hati saya mikir kok niat banget Mbak Jena sampai bela - belain jalan kaki  (sebenernya enggak jauh, tapi berhubung licin jadi jalannya mesti pelan - pelan) demi menunjukkan taman ini. Eh, enggak taunya kami sampai di sisi taman yang dipenuhi kerumunan turis yang dikelilingi oleh patung - patung yang... tanpa pakaian. "Iya, semua sculpture di sini naked tapi dibuat dengan berbagai pose dan kondisi yang berbeda", begitu kata Mbak Jena, yang dari tadi menjelaskan tentang taman ini. Bener aja, begitu diperhatikan lebih dekat, ada beraneka ragam bentuk patung. Mulai dari couple yang duduk saling berhadapan, ibu menyusui, anak - anak sedang berlari, seorang laki - laki sedang berpikir, dan masih banyak lagi. Sambil mencoba memahami, namun akhirnya gagal paham,  dengan polosnya saya bertanya ke Mbak Jena, "Tapi Mbak, ini kenapa bisa sampai terkenal ya? Apa sih yang sebenernya spesial dari berbagai sculpture di sini?". Saya lupa pastinya jawaban apa yang diberikan Mbak Jena, kayanya sih karena Vigeland berhasil menunjukkan berbagai sisi manusia dari berbagai patung tersebut. Cuma satu hal yang pasti, saat saya bertanya begitu, raut wajah Mbak Jena langsung berubah meski hanya dalam beberapa detik, seraya kaget dan bingung dengan pertanyaan saya. Ah, kayanya saya memang kurang memahami seni, terutama yang berhubungan dengan seni pahat :))